Info Liga Jerman

Klub-Klub Jerman Barat yang Mulai Kebakaran Jenggot

Dahulu kala, kapitalisme-lah yang menghancurkan persepakbolaan Jerman Timur. Sekarang, justru kapitalisme yang membangkitkan sepakbola Jerman Timur. Berbagai orang perlahan mulai mengejek RB Leipzig, sama halnya seperti ketika suporter-suporter Manchester United dan Liverpool mengejek Chelsea dan Manchester City sebagai klub “tanpa sejarah dan bermodalkan uang semata”.

Namun, suporter RB Leipzig sama sekali tidak peduli akan hal itu. Mereka tetap datang untuk mendukung RB Leipzig. Salah satu buktinya adalah hadirnya 40 ribu penonton yang merupakan tertinggi di Bundesliga 2 pada musim ini. Mereka tak peduli, sama seperti ketidakpedulian orang-orang akan kejatuhan sepakbola Jerman Timur dalam beberapa tahun ke belakang.

Kritik pun terus berdatangan kepada RB Leipzig. Apalagi setelah klub ini dianggap melanggar aturan “50+1” yang merupakan aturan kepemilikan sebuah klub di Bundesliga. Dalam aturan “50+1”, disebutkan bahwa tiap klub di Jerman setidaknya punya 50 plus 1 persen saham dipegang oleh klub itu sendiri. Aturan ini dikhususkan agar kepemilikan klub tidak jatuh ke tangan-tangan asing, seperti halnya yang terjadi di Liga Inggris. RB Leipzig dianggap sudah menyalahi aturan tersebut karena kepemilikan dari klub ini banyak dimiliki oleh para karyawan dari Red Bull sendiri (klub Leipzig dipegang oleh 11 orang yang semuanya adalah karyawan Red Bull).

Namun, ada juga beberapa pihak yang menyatakan kalau apa yang dilakukan Leipzig ini tidak melanggar aturan “50+1”. “RB sama sekali tidak merusak aturan ’50+1′, mereka hanya sedikit melebihkan aturan tersebut,” ujar salah satu blogger yang menulis tentang RB Leipzig, Mathias Kiessling.

Woflsburg dan Bayer Leverkusen juga sudah melanggar aturan “50+1”

Kiessling juga berujar bahwa justru ada beberapa klub yang sudah jelas-jelas merusak aturan “50+1” seperti VfL Wolfsburg ataupun Bayer Leverkusen yang dimiliki oleh perusahaan –masing-masing oleh Volkswagen dan Bayer. “Wolfsburg dan Leverkusen sudah terlebih dahulu merusak aturan tersebut, Kebangkitan RB Liepzig ini mungkin hanya salah satu dari ketakutan para Wessis terhadap kebangkitan Jerman Timur,” ujarnya.

Memang apa yang diujarkan oleh Kiessling tidaklah salah, melihat dalam beberapa tahun ini selalu klub asal Jerman Barat-lah yang muncul ke permukaan, meninggalkan klub-klub asal Jerman Timur yang masih berusaha untuk “berenang ke permukaan”. Maka, saat melihat ada klub Jerman Timur yang mampu berenang ke permukaan, kebakaran jenggotlah mereka.