Info Liga Jerman

Sejak Di Bayern Munchen, Pep Guardiola Jadi Takut Kalah

Sejak berada di Bayern Munchen, Pep Guardiola telah mengubah filosofi sepakbola indahnya. Demikian yang ditegaskan oleh pelatih Borussia Dortmund, Thomas Tuchel. Menurutnya, ketika berada di Barcelona, Pep benar-benar pelatih yang berani bertaruh dengan gaya main menyerang, tanpa peduli dengan hasil akhir. Namun, sejak menyeberang ke klub lain, Pep sadar, tidak semua tim bisa memainkan sepakbola indah ala Barca.

Selama berada di Barcelona, Pep Guardiola berhasil merebut 14 gelar hanya dalam empat tahun. Sepakbola menyerang yang mengandalkan umpan-umpan pendek dan penguasaan bola, disebut bagai sihir. Pep menjadikan tmnya sebagai raja Eropa. Selesai di Barca, Pep menangani Bayern Munchen. Di tim ini ia tidak bisa menambah gelar Liga Champions, namun mampu merebut tiga gelar Bundesliga secara beruntun.

Sentuhan Pep yang menghilang

Namun, Thomas Tuchel justru tidak tertarik dengan gaya Bayern Munchen yang ditampilkan di era Pep Guardiola. Menurutnya, sang pelatih asal Catalonia, telah ‘mengkhianati’ filosofi sendiri, dengan memilih pendekatan pragmatis. Sepakbola Pep tidak lagi super indah, tetapi cukup mengantarkan kemenangan pula.

Tuchel menuturkan untuk Sport1, “Gaya Bayern bermain di bawah komando Pep berbeda dengan gaya Barcelona bermain dalam kiasanya. Bagi saya, Bayern tidak sefasih, semerdu, sesegar, dan berbeda,tidak seperti Barca era Pep.”

“Pep nyaris saja mengulang keindahan sepakbola Barcelona di beberapa bulan pertama bersama Bayern Munchen. Saya ingat laga (Bayern) kontra Manchester City dan saya berpikir, ‘ini luar biasa, kami (penggemar sepakbola bisa) mencapai titik ini lagi’. Tidak ada (lawan) yang bisa menyentuh bola dan Anda hampir bisa memainkan musik untuk menemani ritme mereka.”

Bagi Tuchel, itu terjadi karena Pep Guardiola dituntut harus meraih gelar. Katanya, “Pep meminimalkan risiko (untuk timnya). Mereka terus menang, bahkan mencapai 90 poin atau lebih, tetapi permainan mereka tidak seindah Barca. Menurut saya Bayern (era Pep) sangat konsisten, tapi mereka tidak lagi menghibur.”

“Saya ingat pertandingan kala Bayern tertinggal dan ia (Pep) memainkan dua striker di depan, (jika tidak salah ingat) (Claudio) Pizarro dan (Mario) Mandzukic. Di Barcelona, ​​ Pep lebih suka kalah dibandingkan harus bermain dengan dua striker raksasa (mengandalkan umpan silang, bola lambung, dan permainan pragmatis.”