Info Liga Jerman

Tiga Pilar Kokoh Keuangan Bundesliga

Premier League, La Liga, atau Serie A boleh jadi liga yang lebih populer di dunia dibanding Bundesliga. Namun bicara soal keuangan atau urusan dengan uang, Bundesliga patut menepuk dada.

Setidaknya ini menurut laporan Deloitte tentang 20 klub terkaya Eropa yang dikeluarkan pada Januari 2014 lalu dan menunjukkan beberapa hal menarik.

Pertama adalah Manchestar United yang pertama kalinya dalam 17 tahun terakhir terlempar dari 3 besar klub terkaya di dunia. Kedua adalah tentang Paris St Germain yang memiliki pedapatan dari aktivitas komersial sebesar 250 juta euro, tertinggi diantara seluruh klub Eropa.

Sementara yang ketiga adalah tentang empat klub Bundesliga yang semua peringkatnya naik dalam daftar peringkat tersebut.

Untuk saat ini, marilah kita lihat hal yang paling akhir disebutkan, yaitu tentang keuangan klub Bundesliga. Dari gambaran sekilas ini, terlihat bagaimana sehatnya klub-klub Jerman. Meski tidak ditonton oleh 150 negara di dunia seperti Liga Inggris, mereka masih mampu bersaing dengan klub-klub papan atas Eropa.

Pendapatan Bundesliga yang mencapai angka 2 miliar euro, yang presentase kenaikan pendapatannya mencapai 7,2%, membuktikan negara ini berkembang secara kontinyu. Bundesliga hanya kalah oleh Liga Primer Inggris yang mencapai pendapatan sebesar 2,9 M euro.

Tidak hanya dalam hal pendapatan, Bundesliga pun mampu menghasilkan laba bersih. Pada lima musim terakhir, hanya pada musim 2009/2010 saja Bundesliga tidak menghasilkan laba bersih. Pada musim itu, tingkat pengeluaran yang tinggi memang tidak diiringi oleh tingkat pendapatan yang tinggi pula.

Meski demikian, pada tahun-tahun selanjutnya Bundesliga mampu bangkit dengan menghasilkan laba bersih sebesar 52 juta euro. Bahkan, pada akhir musim 2011/2012, mereka pun mampu menghasilkan laba bersih sebesar 55 juta euro.

Semua pencapaian ini terjadi karena sehatnya posisi keuangan klub-klub Bundesliga, dengan 14 dari total 18 klub menghasilkan laba sebelum pajak bernilai positif. Maka tak salah jika pengelola liga pun mampu menghasilkan laba bersih yang sehat pula.

Raihan catatan positif tersebut tidak dapat dilepaskan dari bagaimana Bundesliga menerapkan aturan. Mulai dari kebijakan keuangan hingga kepemilikian saham dibahas secara rinci dalam aturan yang dikeluarkan oleh DFB.

Semua kebijakan diatur dalam tiga pilar regulasi keuangan di Bundesliga, yaitu tentang sistem lisensi, dana jaminan (safeguard fund), dan aturan kepemilikan. Berikut adalah penjelasan mengenai aturan-aturan tersebut, dan dampak yang bisa dicapai dengan penerapannya.

Pilar Pertama: Sistem Lisensi

Pilar pertama dari regulasi keuangan di Bundesliga adalah sistem lisensi. Aturan ini menyatakan bahwa setiap klub partisipan Bundesliga wajib untuk menyerahkan laporan keuangan yang komprehensif pada DFL.

Laporan keuangan tersebut mencakup data keuangan klub, mulai dari data keuangan klub pada musim sebelumnya dan musim yang sedang berjalan, ramalan laporan keuangan pada musim mendatang, berikut juga sertifikat beserta opini atas laporan auditor dari kantor akuntan publik.

DFL selaku sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kelangsungan sepakbola di Jerman pun berhak untuk menerima atau meminta keterbukaan informasi yang komprehensif, baik dari bank, auditor, atau pihak lainnya yang terkait keuangan klub. Ini semua pun dilakukan dengan syarat tambahan.

Laporan-laporan tersebut hanya dapat diterima bila posisi likuiditas dan ekuitas klub dalam kondisi positif, baik pada musim yang sedang berjalan dan pada ramalan musim mendatang.

Tidak tanggung-tanggung. Apabila aturan tersebut tidak dapat diikuti, maka klub pun akan menerima sanksi. Mulai dari peringatan, skors, pengurangan poin, hingga denda.

Bahu-Membahu Menutup Krisis

Pilar pertama ini mendorong satu kebaikan yang nampaknya tak terlihat di liga lain: sesama klub Jerman yang saling bahu-membahu dalam membantu klub yang sedang alami krisis keuangan. Coba bandingkan dengan klub Inggris yang justru berlomba-lomba untuk membanderol pemainnya dengan harga setinggi mungkin, dan pada akhirnya membuat iklim finansial yang tak sehat.

Demikian juga dengan pemerintah. Di Jerman, pemerintah berhak untuk membantu klub menghindari jeratan hutang yang sedang dialami.

Misalnya saja kasus yang menerpa Hansa Rostock. Tim yang berkompetisi pada Bundesliga 2 ini sempat memiliki hutang sebesar 6,81 juta poundsterling sehingga terancam bermain pada liga amatir.

Namun, pada akhirnya Rostock terselamatkan oleh dewan lokal yang mengirimkan paket bantuan, termasuk diantaranya hibah, pengabaian sebagian hutang pajak, dan properti klub di area kompleks pelatihan yang dibeli oleh pemerintah. Bantuan ini menjadikan Rostock bisa tetap eksis pada kompetisi Bundesliga 2.

Selain itu, bantuan yang mengalir juga tidak semata-mata datang dari pemerintah saja. Ketika para politisi ataupun pelaku bisnis besar tidak mampu untuk membantu, liga atau bahkan klub rivalpun bisa membantu klub yang terlilit hutang.

Misalnya Bayern Munich, sang klub pemegang hegemoni di Bundesliga. Berulang kali Muenchen menolong klub-klub Jerman lainnya pada saat mereka mengalami kesulitan finansial.

Yang paling terkenal tentu saat The Bavarians memberikan pinjaman 2 juta euro ketika Borussia Dortmund di ambang kebangkrutan. Namun, sebenarnya Bayern juga pernah menghabiskan 11 juta euro untuk membeli saham rival lokal, TSV1860 Munich, di stadion Allianz Arena. Aksi ini menyelamatkan TSV dari kebangkrutan. Demikian pula dengan klub seperti Hertha BSC dan Dynamo Dresden yang juga pernah diberikan bantuan keuangan.

Pilar Kedua: Dana Jaminan (Safeguard Fund)

Pilar kedua adalah dana jaminan yang biasa dikenal dengan istilah Safeguard Fund. Tujuannya adalah guna menjembatani krisis likuiditas sementara yang dialami oleh klub. Hal tersebut dilakukan guna menjaga keberlangsungan operasi pertandingan dan liga.

Untuk mengumpulkan dana ini, setiap klub diwajibkan untuk menyerahkan uang senilai 10 juta euro sebagai uang jaminan. Oleh pihak DFL, pengembalian uang lalu dibayarkan bersamaan dengan penyerahan uang hasil kontrak media.

Pilar Ketiga: Aturan Kepemilikan

Pilar yang terakhir adalah tentang aturan kepemilikan. Regulasi ini menyaratkan bahwa suporterlah yang memegang mayoritas hak suara, ketimbang perusahaan. Artinya, 50% saham ditambah 1 hak suara berada pada majelis umum, yang merupakan perwakilan suporter.

Aturan ini juga mencakup pada tidak diperkenankannya satu pihak mempunyai lebih dari satu klub.

Regulasi mengenai kepemilikan oleh fans sendiri memiliki pengecualian, yaitu klub Bayern Leverkusen yang dimiliki oleh perusahaan Bayer AG dan Vfl Wolfsburg dengan perusahaan Volkswagen AG. Kedua perusahaan itu diizinkan untuk jadi pemilik mayoritas karena dianggap telah memiliki riwayat yang baik dengan klub bersangkutan, dan kredibilitasnya telah teruji waktu.

Hubungan antara klub dan penggemar dapat disamakan dengan bagaimana hubungan yang terjadi antara perusahaan dan para pemegang sahamnya. Ini berarti fans memiliki wewenang dalam menentukan kebijakan bagi klub. Nilai 50% saham ditambah 1 hak suara juga menyaratkan bahwa fans memiliki hak mayortitas dalam membuat, menyetujui ataupun menghapus kebijakan klub.

Regulasi ini diberlakukan guna menyelamatkan klub dari investor yang bertindak sewenang-wenang tanpa memperhatikan posisi kas klub. Dan, maka terasa wajar apabila klub mampu menghasilkan kinerja laporan keuangan yang sehat, karena klub dijalankan oleh suporter dan untuk suporter.

Bukan keuntungan maksimal yang dijadikan tujuan, namun tim yang berprestasi tanpa mengorbankan kesehatan keuangan.

Dengan regulasi ini, tentu rasa memiliki terhadap klub akan muncul diantara para penggemar. Dan seorang fans pun akan terdorong untuk melakukan hal yang terbaik bagi timnya. Termasuk diantaranya menghadiri laga di stadion.

Maka tak heran jika tingkat kehadiran penonton Bundesliga meraih peringkat tertinggi diantara 5 liga top Eropa. Sebanyak rata-rata 42 ribu penonton hadir pada setiap pertandingan.

Kaya Akan Bantuan

Di luar tiga pilar tersebut, Bundesliga pun mesti berterimakasih pada hak untuk jadi tuan rumah di Piala Dunia 2006. Ini karena klub-klub mendapatkan kucuran dana dari pemerintah Jerman untuk memperbesar stadion yang dijadikan venue. Artinya, peningkatan matchday revenue yang diperoleh klub-klub Jerman saat ini sangat erat terkait dengan bantuan yang mengalir dari pihak otoritas.

Ini tentu hal yang menguntungkan. Pada umumnya, klub non-Bundesliga sendiri tidak mendapatkan kesempatan yang sama. Sebagian besar klub membangun sendiri fasilitasnya tanpa ada bantuan dari sektor publik. Bahkan, terkadang ada juga klub yang mesti membayar sewa pada pemerintah karena tak punya stadion untuk menggelar pertandingan.

Meski dengan kelemahan pada klub non-Bundesliga itu, tiga pilar aturan keuangan ini digadang-gadang merupakan suatu model yang optimal. Tapi ini tentu dengan catatan, bahwa tak semua negara mungkin menerapkan model yang sama, karena setiap negara memiliki ciri khasnya masing-masing.

Namun, jika ditanya mengenai liga mana yang setidaknya mampu bertahan dari penerapan Financial Fair Play, ataupun resesi ketika krisis ekonomi sedang berlangsung? Maka Bundesliga mungkin adalah jawaban yang cukup masuk akal untuk saat ini.